Of Feminism and Equality of Women

Morning! Today’s topic might be a little heavier than my usual crappy nonsense. Here we go!

Feminism.

This one word has been a talk-about ever since God knows when. Lots of things can be discussed when the word came out as a topic. It kinda reminded me on my college time when we had to write a paper on the relationship between movies and feminism/gender.
Equality between men and women has been a topic for so long. Women have been fighting for their equality since a long long long time ago. In this case, I’d like to relate this with Indonesian women, specifically. Simply because I am an Indonesian myself, and I know how hard it is for us, women, in our own country, where LOTS of the people still have the stereotype of “Men is on a higher level than woman. Women must obey every word men said. Women have to stay at home and do household chores rather than working outside”.
Kinda sad, huh? I mean, in this modern era, women have the rights to be treated equally, right ladies?
Fortunately, nowadays there are more and more people who understand women’s right of wanting to be treated equally as men. All thanks to Kartini! If not for her, maybe we would still be staying at home, clean the house, cook dinner, wait for our husband to come home from work, AND *the most important thing to be highlighted* not able to go to school and study! Imagine how stupid we would have been!
Well, Kartini‘s Day is 2 days away. If you happen to not knowing who she is, click on the link! She was the pioneer in the area of woman’s right for native Indonesians 🙂
Anyway, a friend of mine, who happened to be my ex-colleague at DT, is one person I know who always saying about women’s equality. Here’s an article she wrote. Very interesting. It’s in Indonesian btw, too long for me to translate. Sorry :p
Perempuan, Pencitraan diri, dan Kartini

Sudah lama rasanya sejak gw enggak menulis sesuatu yang benar-benar menjadi “kegelisahan” gw. Satu hal yang gw inget dalam ilmu sastra, karya sastra berasal dari kegelisahan sang penulis. Humh, walaupun yang akan gw tulis sekarang bukanlah karya sastra, tapi semoga sedikit banyak dapat memberi perenungan atau jeda, buat kita semua untuk sedikit saja ingat tentang isu kesetaraan gender.

Perempuan Feminist
Beberapa waktu yang lalu, dalam perjalanan pulang dari sebuah arisan tiba-tiba sahabat laki-laki gw bilang” gw gak mau ya kalo lo jadi Feminist,” katanya. Saat itu gw cuma senyum, sambil bilang “ definisi feminist di mata lo memang apa sih, sampe2 sepertinya elo sangat khawatir kalau gw menjadi seorang feminist?” Sahabat gw itu cuma bilang, “menurut gw biar bagaimanapun seorang laki-laki harus tetap memimpin”. Gw cuma membalas dengan senyuman dan tidak melanjutkan pembicaraan karena gw sadar jika saat itu gw melanjutkan maka pembicaraan akan berkembang sangat jauh dan panjang. “bukan, saatnya untuk membahas ini sekarang” kataku dalam hati.

Perempuan dan Laki-Laki yang Memberikan Inspirasi
Gw sangat bersyukur karena sepanjang pengalaman gw bekerja, gw enggak pernah didiskriminasikan secara gender. Mulai dari pengalaman gw sebagai pengajar bahasa, guru TK, penulis, copywriter, wartawan, sampe Account Executive, semua lingkungan gw berada adalah lingkungan yang menghargai kesetaraan gender.
Ya, bukan samasekali enggak ada, waktu menjalani pekerjaan sebagai wartawan harian ekonomi, di tengah2 sekumpulan para wartawan laki-laki mungkin ada sedikit “ under estimate” atas kemampuan meliput ke lokasi yang jauh dan banyak karena dianggap energi gw gak sebanyak anak laki-laki atau juga beberapa “joke” yang sedikit meragukan kemampuan perempuan.


Di lingkungan gw bekerja saat ini, kesetaraan gender jelas sangat terasa. Selain pemimpin dari agency gw adalah seorang perempuan yang sangat smart dan pekerja keras, di luar itu, orang-orang di Agency tempat gw bekerja memang tidak pernah melakukan isu2 yang menurut gw meng—under estimate kemampuan salah satu gender.

Di tempat gw bekerja sekarang ini, gw melihat perempuan-perempuan tangguh yang sukses menjalankan peran sebagai perempuan pekerja sekaligus perempuan sebagai ibu rumah tangga. Tentu saja kesuksesan mereka tidak akan terjadi jika mereka tidak didukung oleh laki-laki yang supportive di belakang mereka. Suami-suami pengertian yang mendukung sepenuh hati. Sampai sekarang, gw masih berdecak kagum jika ingat account director gw yang senang bekerja lembur di kantor, dan tidak jarang, sang suami menemaninya hingga account director ini selesai menyelesaikan deck2-nya. Wow, mereka bahkan bukan pasangan pacaran lagi, tapi dukungan dan pengertian yang diberikan suami si AD gw ini menurut gw sangat luar biasa.

Perempuan dan Pencitraan Diri
Setiap hari , manusia bermain dengan pencitraan diri. Apalagi dengan fenomena Facebook, 2 tahun belakangan ini, pencitraan diri kini dapat dibentuk dan dipublikasikan melalui status facebook, profile information, profile picture, dll. Ada yang ingin mencitrakan dirinya sebagai seorang yang smart, seorang yang super sibuk, seorang yang update dan ga pernah ketinggalan, seorang yang peduli isu2 sosial, dll.
Tentu saja, menurut gw setiap orang ingin mencitrakan diri mereka sebagai seorang yang positif. Setiap hari ratusan bahkan ribuan orang “jualan citra diri” melalui facebook, twitter, dan akun2 jejaring social lainnya. Sebagain besar memberikan kejujuran dan sebagian lainnya mungkin hanya memberikan pencitraan tanpa kebenaran di dalamnya. Gw enggak bilang ini baik atau buruk, tapi memang punya dampak baik dan buruk sekaligus.


Berbicara tentang citra, baru2 ini seorang teman bilang gini ke gw:

Temen gw: “Genih, lo diem2 menghanyutkan ya”
Gw : “Maksudnya?”
Temen gw: “iya, diem2 lo agresip pake P”

Humh, jujur pas gw baca BBM dia itu, gw agak shock. Gw ngerasa sebagai perempuan, pencitraan diri sebagai perempuan agresif berkonotasi negative. Dan temen gw melanjutkan perkataannya,
“Ur a kind of woman who knows that gender isn’t the main problem when U have interest to ur opposite sex”.

Gw kembali mencerna kata2 temen gw satu ini. Sebenernya statement dia enggak sepenuhnya benar, tapi enggak sepenuhnya salah juga.
Gw justru paling enggak bisa mengekspresikan rasa suka sm seseorang yang gw betul2 gw suka. Boro2 bisa ekspresiin, I even could not do eyes contact. Biasanya gw malah akan menghindar kalo ketemu org yg gw suka.

Tapi gw sadar, pelan2 hal ini udah sedikit berubah. Gw inget banget sm perkataan dosen gw pas kuliah dulu.
“Ini perempuan2 zaman sekarang jangan terkena syndrome Cinderella Complex! Cuma duduk diam dan berharap Pangeran tampan datang menjemput. Ayo bekerja, ayo aktif di ruang publik, ayo berkarya, ayo bergaul! Pick and find your “Prince Charming!”

Humh, jadi, gw pikir, adjektiva Agresif bukan hanya milik dan cocok untuk sex laki-laki. Perempuan juga berhak mengekspresikan perasaannya. Bilang suka atau tidak suka dengan lantang.

Stereotipe tidak hanya dialami oleh perempuan tapi juga laki-laki. Misalnya, perempuan pulang malam= nakal, laki-laki pulang malam= pekerja keras. Perempuan menangis= wajar, laki-laki menangis= lemah.
Manusia seolah dikotak2an dengan citra sesuai gendernya. Padahal, setiap laki-laki dan perempuan punya sisi masculine dan feminine.

Perempuan dan Virginity
Masih berhubungan dengan pencitraan, dan gw minta maaf sebelumnya sudah membicarakan hal ini di situs ini—yaitu masalah virginity atau keperawanan—laki-laki maupun perempuan.


Dari dulu, orang tua atau ibu kita sering berbicara: “Jaga keperawananmu baik-baik Nak, jaga baik2 sampai pada waktu yang sudah Halal di mata Tuhan”—atau nasehat2 sejenis.

Tanpa disadari, para orang tua kebanyakan memberikan nasehat ini pada anak perempuan, dan menurut gw jarang diberikan pada anak laki-laki. Padahal, menurut gw hal ini penting untuk diberikan pada anak perempuan maupun laki-laki.

Humh, menurut gw, menjaga virginity hingga ke level pernikahan adalah sangat penting. Bukan hanya demi agama atau takut dosa karena Tuhan tidak melarang kita tanpa alasan. Tentu yang Maha Indah dan Bijakasana di atas sana melarang kita karena demi kebaikan kita. Bagi gw pribadi, hal ini sangat prinsipil dan gw akan menjaga ini karena akan membantu kita semua dari hal2 yang lebih buruk seperti penyakit menular, kehamilan tidak diinginkan, dan lain-lain. Tapi gw menghargai keputusan orang lain yang tidak sama dengan gw.

Gw jd inget pernah membaca salah satu rubric konsultasi psikologi di sebuah majalah, ada seorang perempuan bercerita bahwa ia diberikan talak oleh suaminya karena dinyatakan tidak perawan. Gw gak bisa membayangkan perasaan si perempuan ini. Eksistensi perempuan disamakan dengan keperawanan, padahal tidak ada yang menjamin si suami juga masih virgin. Jadi, nasehat orang tua zaman sekarang sepertinya tidak hanya untuk menjaga keperawanan untuk anak laki-laki dan perempuannya, tapi juga untuk tidak memandang eksistensi seseorang dari keperawanan!

Selamat Hari Kartini!
Feminisme adalah sebuah ideologi atau pemikiran yang menginginkan adanya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki.
Jadi, jangan khawatir ya Ikhwan Aryandi , seorang feminist bukan ingin mendominasi peran laki-laki dan ingin ada di atas laki-laki. Seorang feminist bukan berarti tidak mau masak dan menyediakan segala keperluan bagi pasangannya, seorang feminist bukan berarti tidak membutuhkan bantuan laki-laki.


Tapi yang terpenting, adanya kesetaraan hak. Bukan berarti laki-laki “haram” masak dan menyediakan keperluan untuk istrinya, bukan berarti laki-laki tidak boleh meminta bantuan kepada perempuan untuk hal-hal yang masculine.

Dampak negative budaya patriarki dan stereotype gender dialami tidak hanya oleh perempuan, juga laki-laki. Gw pernah mendengar sebuah kasus di sebuah LSM yang gw ikuti, bahwa ada seorang laki-laki yang terkena PHK, tapi dia berbohong pada keluarganya. Setiap hari laki-laki ini berangkat kerja seolah-olah tidak di-PHK. Dia mengaku sebagai laki-laki dia punya beban lebih tinggi sebagai pencari nafkah. Dia takut akan direndahkan dan kehilangan control atas istri dan keluarganya jika tahu sang pemimpin keluarga tidak punya pekerjaan.

Dari sekian banyak pilihan dalam hidup, yang paling penting untuk dilakukan pasangan adalah untuk berkompromi dan saling menghargai keputusan masing-masing. Sebagai contoh, seorang perempuan yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga harus dengan kesadaran penuh melakukan keputusan ini, tanpa tekanan dari pasangannya. Ibu rumah tangga juga harus dihargai sebagai sebuah profesi dan mendapatkan penghargaan tinggi, sama seperti profesi lainnya.

Ketimpangan gender mungkin tidak terlalu terasa di kota-kota besar, yang masih terasa di kota besar hanyalah bias gender. Tapi, jika kita mau melihat ke daerah-daerah urban atau ke pedesaan, ketidaksetaraan gender masih sangat terasa. Terutama dalam hak-hak pendidikan.

Gw selalu punya rasa ingin tahu yang besar tentang isu gender yang terjadi di belahan dunia lain. Gw punya teman yang tinggal di Belanda, abs2an gw tanya tentang hak dan peran laki-laki dan perempuan di sana. Begitu juga dengan seorang teman yang pernah tinggal lama di Malaysia, Amerika, atau India. Jawabannya, Asia masih punya kecendrungan yang lebih tinggi dalam ketidaksetaraan gender.

Kasus ini dialami di negeri kita sendiri.


Ada sebuah keluarga dengan jumlah anak 12. Sang bapak hanya bekerja sebagai buruh pabrik, dan sang ibu sebagai buruh cuci. Hampir sebagian besar anak mereka hanya sekolah sampai SMP. Tiga dari anak-anak mereka bahkan sudah hidup di jalanan sebagai pengamen dan pengemis. Beberapa kali kami dari LSM sudah berusaha memberikan pengarahan agar si ibu menggunakan pil KB dan berhenti mempunyai anak. Ibu ini terus gigih menolak karena dia tidak diizinkan suaminya mengkonsumsi pil KB atau menggunakan alat kontrasepsi. “ suami saya bilang, ini dosa Mbak, dilarang agama.” “Anak ini rejeki dari yang di ATAS, lagian saja juga takut suami saya malah nikah lagi kalo dia dipaksa pake begituan Pak (pengaman), katanya gak enak.”
Merinding saya mendengar jawaban si Ibu ini.

Alangkahnya luar biasanya senangnya saya, jika kita, perempuan dan laki-laki pekerja ibukota yang bisa merasakan nikmatnya kesetaraan gender, mau sedikit saja melirik dan melakukan sesuatu pada mereka yang belum bisa merasakan hal yang sama.

Wahai Kartini,
Perempuan kini berhak memilih dalam Pemilu. Perempuan berhak mempunyai akses kontrasepsi. Perempuan kini berhak untuk bekerja di luar rumah. Perempuan kini dapat menjadi pemimpin politik. Perempuan kini mempunyai hak atas kegiatan ekonomi, transaksi penjualan, dan kepemilikan property.

Wahai Kartini,
Masih banyak yang harus dilakukan. Membebaskan perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, membebaskan perempuan dari pelecahan seksual, membebaskan perempuan dari tindakan marginalisasi dengan pembenaran agama, membebaskan perempuan dari nilai-nilai adat yang merugikan.

Bukan hanya demi PEREMPUAN, tapi juga untuk laki-laki dan dunia yang lebih baik.
Demi keadilan, demi kemanusiaan.

Doakan kami KARTINI!
Jakarta, 18 April 2010.


After reading her article, I feel no other than…WOW! Aside from the fact that she does write very well (she was an Indonesian literature student and used to be a newspaper reporter before), I’d say that she has a great mind and she leads! 🙂
Thanks for your interesting article, Genih, and thanks for your permission for me to share it here as well 😉
I’m gonna end this post with a line Genih has always been saying:
“Hey women, fight for your equality!”
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s