Be grateful of your life

“When you feel that your life is hard, there is always someone out there who wish they could have your life instead. Be grateful of what you have. Count your blessings.”

I tweeted the above some time ago. It’s actually directed to a certain someone, but let’s save the story for another day.

Today’s story is about an old friend of mine whom I look up to. Her life hasn’t been easy, but with her determination, passion, and faith in God, she managed to ‘lift up’ her life to the better.

She was my primary school mate, and I was quite close to her for a period of time in school back then. She was a ‘fierce’ and loud girl, and there were quite a number of guys got beaten up by her (Of course it was not those kind of beating to the point that they died. LOL!! You know, those punches and kicks and all).

Things started to change when her beloved father passed away… I still remember the day she came back to school with a sad face but telling me she was okay. Maybe she doesn’t remember, but I do. 😉

So anyway, I stumbled upon her blog the other day, and there’s this blog post about how hard her life is. Even though I knew her back then, I definitely knew nothing about the further details in her life, especially since we graduated from Primary school and went our separate ways and technically lost contact of each other.

Reading the post brought me to tear…

She wrote quite a lengthy post but I just couldn’t stop reading it. Each sentence was carefully written with pure emotion and humbleness. At first I was thinking of translating it to English (it’s in Bahasa), but then again, I changed my mind cos:

1. It may not sounds the same anymore. I mean in terms of the emotion.
2. It’s quite lengthy, and it will take me some time! Hahahaha :p
You can read the post here, or you can also read it here. I’ve copied and pasted the whole thing here. For those who understand Malay, it may be quite easy for you to understand it as she used decent Indonesian, not slank. I’ve also edited some of the vocabulary and grammar a little bit without trying to change the meaning 🙂 *Hope you’re okay with it, Wen*

It’s pretty long, so brace yourself, and perhaps prepare some tissues. Just in case. Oh, and I’ve also highlighted some points in red. Those are the things I think worthy to take note of 😉




Life is Hard, But God is Good
“Kenapa sih hidup gue begini!”, ” Hidup tuh gak adil!” . Kalimat-kalimat seperti ini seringkali terucap di bibir kita. Beberapa hari belakangan ini saya mendapatkan beberapa orang teman yang sharing dengan saya tentang kehidupannya. Dari semua yang mereka ceritakan saya mendapat kesimpulan yang sama mereka merasa hidup mereka susah dan Tuhan meninggalkan mereka. Kesimpulan ini membuat saya kembali mengingat bagaimana kehidupan saya di dunia selama 25 tahun ini. Saya mengingat semua bagian-bagian yang terjadi. Sebelas tahun hidup saya dilalui dengan tanpa beban, tidak pernah merasa kekurangan, hidup bagaikan tuan putri, manja, egois, apapun harus diturutin. Saya anak terakhir dan anak kesayangan di rumah, keluarga besar papa saya memanggil saya dengan anak emas si Ronny (ini nama panggilan almarhum papa saya). Kakak-kakak sayapun sayang luar biasa dengan adik kecilnya ini. Hanya mama saya saja ketika itu tidak terlalu memanjakan saya karena dia berpendapat anak bungsunya ini sudah sangat dimanja.
Kehidupan sebelas tahun itu berubah ketika papa saya jatuh sakit, ekonomi keluarga kami jatuh. Rumah-rumah yang dibeli oleh papa untuk kelima anaknya habis terjual untuk biaya pengobatan, tiga mobil bermerkpun juga ikut terjual. Sampai pada tanggal 3 Febuari 1998 jam 01.00 pagi, telepon di rumah kami berdering, saat itu di rumah hanya ada kakak sulung saya dan kakak ketiga saya. Saya yg sedang tertidur lelap langsung dibangunkan kakak sulung saya yang matanya tampak memerah, saya tanya kenapa dia hanya menjawab ” papa mau ketemu kamu, ke rumah sakit sekarang yah” Saat itu saya berumur 11 tahun feeling sudah tidak enak. Sampai di rumah sakit pemandangan yang saya lihat mama menangis sambil mengelus kepala papa, kakak saya yang nomor 4 sedang marah kepada dokter sambil menarik baju dokter dengan berteriak “bangunin papa saya!!” Kakak saya yang ketiga menangis sambil berteriak “papa”, saya mengeluarkan air mata, tidak brani mendekat, kakak sulung saya menggandeng tangan saya, saya lihat mata dia memerah dan berusaha tegar, dia bawa ke samping tubuh papa yang sedang terbaring, saya mengeluarkan suara, “Papa knapa? Papa bangun, Wendy di sini,” seketika saya melihat mama memandang saya dan pingsan. Lalu saya ingat persis kakak sulung saya pegang tangan saya yang satu dia pegang tangan papa saya dan kakak berkata ” pa, pergi yang tenang yah, Henry akan jaga adek-adek,janji, terutama Wendy, Hendry akan gantiin posisi papa untuk jagain dia (ok saya menitikan airmata saat mengetik ini)” kakak keempat saya shock dia pingsan, mamapun begitu. Beberapa menit kemudian kakak kedua saya dan omapun datang. Oma dan kakak saya ini bilang ke Henry, bawa adek keluar. Saya di gendong keluar, duduk dan Henry-pun duduk memeluk saya kencang, dia nangis dan cuma bilang, “wendy nyanyi aja, gk boleh nangis, kita-kita jagain kamu, gak boleh nangis gak boleh nyari papa, papa udah pergi, udah tenang” Saya reflek berteriak nangis sambil melepaskan pelukan, saya lari ke dalam menghampiri tubuh papa saya yang terbaring kaku dengan wajah tersenyum, saya berteriak “PAPA BANGUN!!! PAPA BANGUN!! BESOK WENDY MAU SEKOLAH!! PAPA BANGUN!!! PAPA JANJI MAU ANTERIN!!” Kakak kedua saya menarik saya dan memeluk saya sambil membentak “Wen! PAPA UDAH PERGI!” Saya ngotot, berontak dan masih dengan teriakan yang sama, sampai akhirnya saya pingsan tak sadarkan diri.
Saya tersadar, tubuh saya tergeletak di tempat tidur di rumah sakit. Bangun lari mencari dimana papa. Sampai kakak kedua saya mengantar saya ke tempat dimana papa dimandikan untuk terakhir kalinya. Di situ saya melihat mama dia berusaha tegar untuk kami semua, mama menggandeng tangan saya, saat itu saya ingat persis perkataan mama kepada dokter ” dok, saya yang mau mandiin suami saya tidak perlu pihak rumah sakit.” Saya mengikuti mama saya, dia membuka pakaian ayah saya sambil menitikan air mata dan hanya berkata ” Ron, pergi yang tenang yah, eik (Bahasa Belanda yg artinya : saya) jaga anak-anak, eik akan jadiin mereka sarjana. Tenang di sana yah, pergi aja, klenemeit (Bahasa Belanda : yg paling kecil) biar eik yang jaga. Kalo diinget-inget luar biasa cinta yang mereka miliki satu sama lain :’).
Hari itu juga papa dimakamkan. Mama tidak pernah meninggalkan peti mati papa sedetik pun. Keluarga besar berkumpul di rumah duka di rumah oma saya. Rame yang saya lihat saat itu,suara tangisan, triakan histeris, bahkan celotehan dari seorang sepupu ” mama, koq om Ronny-nya tidur? Kan dede mau main sama om ronny”. Papa dimakamkan di Tanah Kusir, tempat dimana banyak anggota keluarga Helling dimakamkan.
Seminggu setelah kejadian ini, kami pindah rumah, tidak lagi di daerah elite tersebut, kami sekeluarga pindah rumah dekat dengan sekolah saya. Rumah yang sangat jauh lebih kecil dengan kamar mandi seadanya, kamar yang terbatas, kalo sekarang saya ingat rumah itu seperti tidak layak untuk ditinggalin. Saat itu yang hanya bekerja hanya kakak sulung saya yang baru lulus kuliah dan keterima di salah satu bank ternama. Saat itu krisis moneterpun terjadi di negara kita, gaji kakak hanya tigaratus ribu saat itu, saya kelas 6 SD yang sedang menghadapi ujian. Semua berasa berubah dalam sekejap, anak umur 11 tahun yang mau memasuki masa remaja dengan emosi tidak stabil, saya selalu menangis, mama selalu mengantar saya ke sekolah setiap hari dan menunggu saya sampai saya pulang sekolah. Saya sangat ingat persis ketika saya duduk di tangga sekolah memegang bakwan yang ingin saya makan, dan pemandangan di depan menyajikan pemandangan hangatnya seorang ayah mengantar anak perempuannya, digendong, dicium keningnya. Saya yang lihat pemandangan itu reflek memeras dengan kencang bakwan tersebut dan menitikan air mata, mama yang melihat itu hanya bisa memeluk saya. Ujian saya pas2-an saat lulus SD, nilai saya benar-benar jeblok padahal nilai-nilai saya tidak pernah jelek sebelum-sebelumnya karena papa dan mama cukup keras terhadap pendidikan anak-anaknya.
Hari-hari saya lalui dengan sangat berat saat itu, memasuki masa SMP saya masih sekolah di skolah yang sama, saya dapat beasiswa di sana untuk anak yatim, masa-masa SMP termasuk masa-masa pemberontak untuk saya, mama bekerja di kantin sekolah, dia tidak pernah melepaskan penjagaannya terhadap saya. Saya ingat persis bagaimana dia berjuang mati-matian untuk menyekolahkan saya dan 2 kakak saya yang masih kuliah saat itu serta membantu menopang perekonomian keluarga. Kakak saya yang nomor dua saat itu baru keterima menjadi guru untuk sekolah pariwisata. Saya memiliki emosi yang sangat tidak terkontrol pada awal usia sekolah SMP – SMA, seringkali menyalahkan Tuhan, knapa begitu cepat mengambil papa, knapa materi kami tidak dicukupi, apa sih salah keluarga saya, knapa mreka yang jahat tetap bisa hidup enak. Banyak hal setiap hari saya menyalahkan Tuhan, saya merasa Tuhan tidak dengar doa saya.
Beberapa lama setelah saya menduduki kelas satu SMP, saya ikut kelas untuk anak-anak yang mau menjadi Katolik atau yang belum di baptis secara Katolik di sekolah, saat itu saya masih beragama Kristen Protestan. Awalnya saya hanya ikut-ikut teman saat masuk kelas itu.Tidak tahu mengapa saya senang masuk kelas itu belajar banyak, sampai saya mencoba untuk beribadah benar-benar ke gereja Katolik, karena selama ini saya hanya beribadah secara Katolik saat sekolah saja. Hari itu saya merasa nyaman saat mengikuti misa. Percaya atau tidak saya mengikuti kelas ini hanya 1 bulan sedangkan teman-teman saya harus 6 bulan mengikuti kelas ini. Pulang sekolah dari pihak gereja menghubungi sekolah, seorang romo mewawancarai saya, dan minta saya datang ke gereja untuk dibaptis secara Katolik sore itu. Akhirnya hal itu terjadi. Tidak lama kemudian saya juga mengikuti pembelajaran menjadi putra putri altar. Mama sangat rajin menemani saya. Tapi hal ini bukan berarti kemarahan saya berhenti, kemarahan itu selalu muncul, tapi entah mengapa saya selalu dibuat untuk sabar. Kalo dijabarkan hidup saya saat masa-masa SMP – SMA itu berputar 360 derajat dari sebelumnya. Kehidupan tuan putri berubah menjadi upik abu. Saya yang biasa memakai supir,tidak pernah naik angkot, tidak pernah naik bajaj, jarang sekali jalan kaki. Saya harus mengalami itu semua bahkan saya pernah jalan kaki dari sekolah ke rumah di Tanjung Priok dengan hujan-hujanan saat Jakarta dilanda banjir besar saat itu. Saya harus belajar mengontrol uang jajan, jarang pergi ke mall.Awal mula sangat susah menerima keadaan seperti ini tetapi dari sini pelan-pelan Tuhan seperti membuka mata saya atas hal-hal yang dipertanyakan, hal-hal yang saya keluhkan, hal-hal yang membuat saya marah dengan diri-Nya.
Setelah lulus dari bangku SMA, saya sempet berkecil hati untuk bisa kuliah dan khawatir dengan masa depan saya. Melihat keadaan ekonomi keluarga yang kurang memungkinkan jika berkuliah di universitas swasta. Di sini cobaanpun makin besar. Saya nekat hanya mendaftar universitas negeri favorit selain memang itu impian saya dari kecil. Saat itu pertama kalinya saya diremehkan oleh banyak orang terutama orang-orang terdekat saya. Bagi mereka saya tidak cukup mempunyai otak yang memadai untuk masuk universitas negeri favorit tersebut. Perkataan mereka seringkali menyakiti hati saya “PD bgt cuma daftar sana, gw pinter aja blm tentu masuk sana.” Saya hanya diam dan menyimpannya rapat-rapat, karena saya tahu bahwa keputusan ini sangat beresiko karena untuk bisa menjadi salah satu mahasiswa di universitas tersebut sangatlah sulit, saya harus bersaing dengan ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia. Tahun pertama mencoba gagal, begitupun tahun kedua tetapi saya tidak mau menyerah selama kesempatan masih ada.
Tahun ketiga saya kembali mengikuti tes tersebut dan merupakan kesempatan terakhir untuk masuk ke universitas tersebut. Saat itu saya sudah menjadi pelatih cheerleading di SMA saya dan baru bekerja selama setahun. Honor yang didapat saya kumpulkan untuk membeli fomulir pendaftaran dan mendaftar les bimbingan intensif serta untuk ongkos transport. Saya simpan itu di mama dan berkata kepada mama ” Ma, bantu simpen yah, Wendy gk mw bebanin mama sama kakak2, doain aj” Mama selalu menemani saya, bahkan dia berniat menjual kalung kesayangan papa kalau uang yang dikumpulkan tidak cukup untuk membeli fomulir dan les. Saya bilang ke mama , “Ma, gak usah, mama jangan khawatir, bantu wendy dengan doa, Wendy usaha nabung dari gaji Wendy ngajar. Tuhan pasti bantu” Semua kekumpul dan Tuhan memberi lebih, saudara sepupu saya yang sudah lama tidak bertemu datang ke rumah ia memberikan mama sejumlah uang dan memeluk mama. Sepupu saya hanya bilang “Tante, dulu aku mau sekolah, aku susah, om bantu aku, skrg om gak ada, adek kecil mau kuliah, aku bantu kasih tapi gak banyak” Dari sinilah saya melihat TABUR TUAI yang Alkitab pernah katakan. Papa banyak membantu orang, jiwa sosial dia sangat tinggi, dan di sini mata saya terbuka papa menabur banyak kebaikan sama orang dengan tulus tapi ketika Tuhan panggil dia untuk kembali ke sisi-Nya, Tuhan melihat hal itu saat dia hidup di dunia dan Tuhan membiarkan anak-anak dan istrinya menuai dan tidak kekurangan. Hari itu saya sadar dan berasa seperti diri saya tertampar kencang setelah kepergian papa, kami masih makan cukup, masih berlindung di rumah meskipun lebih kecil, saya masih bisa bersekolah di sekolah yang termasuk mahal biayanya karena adanya beasiswa, kami tidak kekurangan suatu apapun. Saya terhentak merasa berdosa karena saya selama ini seperti tidak mensyukuri hidup, selalu mengeluh dan yang terparah adalah saya marah ke Tuhan. Padahal di luar sana banyak sekali orang yang jauh lebih susah. Cobaan pun makin datang dan semakin besar, saat kumpul di keluarga besar papa, saya banyak diremehkan dengan kata-kata “emang bisa?”, ” yakin bgt kamu?”, ” udh langsung kerja aj, lulusan sma bisa tuh coba jadi spg dulu”, “emang anakmu bisa tembus SPMB? Bukannya dia kerjanya main-main aj dan manja kan?” Semua perkataan mereka seperti menusuk jantung saya sangat dalam, membuat lobang hitam yang sangat besar di hati saya. Mereka berbicara itu di depan mama saya, janda dari saudara mereka sendiri. Saya ingat persis selalu datang ke papa meminta bantuan dikala mereka mengalami kesulitan. Saya tahu persis mama saya sakit hatinya luar biasa, airmata saya tahan saat itu karena tidak ingin menambah beban mama. Bahkan salah seorang sahabatpun pernah mengutarakan pilihan saya bodoh seperti menunggu ketidakpastian, cukup banyak teman yang tidak yakin dan meremehkan saya saat itu mereka mayoritas menganggap saya hanya membuang waktu saja. Hampir setiap hari menangis, menangis dan menangis. Semua kata-kata itu saya simpan sampai bertemu seorang teman dan meminta dia untuk mengajarkan pelajaran bahasa inggris untuk persiapan ujian. Saya curahkan semua isi hati saya dan dia memberikan support dan saran yang membuat saya berpikir. Saya rutin pergi ke rumah dia setelah pulang les dan dia pulang kuliah. Setiap hari pulang malam dan sampai di rumah tidak langsung istirahat tetapi mengulang kembali pelajaran yang didapat hari itu. Saya mengingat semua saran dan support yang dia berikan dan pada akhirnya terdorong untuk pergi duduk di goa maria.Saya berdoa seperti curhat disinilah iman saya mulai bertumbuh, cobaan demi cobaan tidak berhenti datang tapi saya hajar dengan doa, berusaha berpikir positif dan ke depan, mengontrol segala emosi *meskipun sekarang masih cukup temperamental*
Sampai saya membuat perjanjian ke Tuhan kalau saya mau belajar untuk lebih sabar menghadapi ini semua dan jika keterima di kesemmpatan terakhir ini saya mau rajin ke gereja mendekatkan diri dengan-Nya. Saya cerita semua hal ini ke mama, mama sambil mengelus dan mencium kening saya hanya berkata ” mama tau anak mama yang paling kecil itu bukan anak manja, anak mama yang kaya tuan putri ini punya mental yang kuat bisa tanggung jawab, mama percaya kamu bisa, mama slalu doa buat kamu Wen”. Sampai suatu malam saya mendengar pembicaraan mama ke kakak2 saya, ” Kalian berempat harus bersyukur, tidak perlu mengalami apa yang adik alami, mama sangat jaga dia, liat apa waktu jaman kalian sekolah kalian bersusah payah kaya dia? Dicemooh banyak org, umur muda gk perlu kumpulin uang hanya untuk les dan bayar fomulir, kalian transport sudah tersedia, jaga adeknya, cobaan dia berat.” Mendengar hal tersebut membuat air mata ini tumpah karena melihat mama memikirkan saya sampai sebegitunya.
Saya membuat janji terhadap diri saya menjelang hari ujian untuk pergi ke gereja setiap hari. Rutinitas ini saya lakukan, usai les intensif mampir dan duduk di gereja,seringkali saya menangis ketika berdoa. Saya menyerahkan semuanya ke Tuhan, saya hanya mau usaha dan sayapun minta maaf benar-benar maaf atas semua keluhan, benar-benar menyesal atas apa yang sudah keluar dari mulut saya, memaki Tuhan, marah dengan diri-Nya, saya berlutut minta ampun. Saya hanya minta kekuatan, karena saya hanya manusia biasa yang lemah dengan keterbatasannya dan jauh sekali dari kata sempurna. Makin hari ke hari iman makin bertumbuh lebih dari sebelumnya, saya makin dibuat tenang dan kuat.
Usaha, kesabaran dan doa saya terjawab, saya keterima di universitas tersebut, saya ke gereja mengucap syukur dan berjanji mau membuktikan kalau saya bisa menyelesaikan studi saya dengan baik,saya ingin selesai tepat waktu, mengejar ilmu, berusaha mempunyai nilai yang memuaskan.Saya minta Tuhan bantu di tiap perjalanan saya. Awal masuk kuliah Tuhan memberi saya hadiah yang sebenarnya saya tidak pernah minta itu, saya masuk ke tim cheerleading karena kenalan seorang teman di kampus. Resmi saya berkuliah, sambil berprofesi sebagai cheerleader dan pengajar cheerleading. Cobaan pun datang kembali saya harus mengalami sakit hati yang luar biasa, dan cemooh dari orang-orang sekitar, meragukan saya bisa menyelesaikan studi, meragukan profesi yang saya jalanin dan yang bikin saya sakit kerabat-kerabat dekat ini meremehkan dengan bicara langsung ke mama, bahwa saya akan susah jadi orang sukses, bahwa cheerleader itu profesi apa? Bisa jamin apa? Pilihan saya bodoh karena saya memilih Sastra Rusia yang tidak jelas dan tidak menjamin kehidupan di masa depan. Mama menahan diam dan hanya bisa bercerita, saya hanya bisa bilang ke mama, saya tidak janji apa-apa tapi saya mau berusaha yang terbaik. Awal kuliah pun saya harus kehilangan sahabat karib yang benar-benar dekat dengan saya. Persahabatan kami pecah hanya karena orang ketiga bahwa saya bukan sahabat yang baik dan suatu hal. Seminggu penuh saya menangis, jengkel, marah, kaget, tidak menyangka, dan bertanya koq bisa? Koq tega? Apa iya saya gak baik? 9 tahun kami bersahabat apa artinya. Awal2 saya susah sekali memaafkan dan sulit percaya orang, tapi saya terus berdoa. Saya juga bertanya apakah memang begini? Harus begini? Ternyata seiring berjalannya waktu Tuhan memberikan penggantinya, orang yang saya dulu kira sombong dan tidak bisa dijadikan sahabat, ternyata jauh lebih bisa diajak susah diajak senang. Ada saat susah dan senang, selalu berusaha membuat saya tertawa. Dia selalu memberikan kata-kata ledekan yang sebenarnya dia meledek saya ketika saya marah atau sedih tetapi mengocok perut saya ketika membacanya sambil membayangkan gaya celoteh dia yang sangat khas. Bahkan yang membuat saya paling tersentuh sekali ketika orang yang mencuri hati saya mengajak saya mengobrol dalam wktu yang lama, sahabat saya ini mau menunggu dan membiarkan saya dan “dia” berbicara berdua. Saya ingat persis setelah saya dan “dia” selesai berbicara, kami pergi ke tempat kesayangan kami untuk membeli minum, saya melemparkan pertanyaan,” koq mau nunggu?” Sahabat saya menjawab ” gak pernah liat lo begini wen, jatuh cinta, jadi gpp biar lo bisa rasain.” Di situ saya terharu dan berpikir , orang yang dulu pasti tidak akan melakukan hal ini. Kami pernah susah sama2 saat latihan cheerleadingbersama-sama. Selesai latihan sama-sama lapar dan punya uang yang terbatas, kami beli tempe mendoan di pintu 4 di GBK dan 2 botol aqua untuk bareng-bareng. Saya sangat inget persis, karena ketika itu saya berpikir, kalo orang yang dulu tidak akan pernah mau untuk makan di pinggir jalan seperti ini. Yah betul jika mungkin kita harus bertemu orang yang salah sebelum ketemu orang yang tepat, kata-kata ini pas tidak hanya u percintaan sepasang kekasih tetapi juga untuk persahabatan dan saya berharap dan berdoa kepada Tuhan semoga persahabatan kami awet di dalam suka dan duka sampai saya harus meninggalkan dunia ini.
Waktu terus berjalan saya semakin belajar tentang hidup.Puji Tuhan studi saya selesai tepat waktu dengan hasil memuaskan, karir saya di dunia cheerleadingpun banyak menghasilkan prestasi,  rezeki pun mengalir dan Tuhan sekarang sedang membuat saya belajar untuk tahu apa itu cinta dan belajar mencintai dengan tulus walaupun sakit, belajar cinta yang tidak palsu karena cinta Bapa di sorga kepada anak-anak-Nya pun sangat tulus dan luar biasa. Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu -Nya. Kita hanya perlu besabar, berusaha dan berdoa. Tuhan membuka mata orang-orang yang meremehkan saya tanpa saya harus berteriak-teriak ato membuat pengumuman di spanduk besar. Tuhan membantu membuat saya yang direndahkan menjadi ditinggikan. Saya sangat percaya hidup memang sulit tetapi jika kita menyerahkan semua ke tangan Tuhan hidup kita pasti aman tidak kekurangan suatu apapun. Saya juga belajar ketika menemui masalah Tuhan harus pertama dicari, ketika berdoa belajar untuk beserah, jangan pernah berpikir Tuhan meninggalkan kita karena sebenarnya kita yang sering meninggalkan Tuhan, jangan memandang pergi ke gereja hanya sebagai kewajiban, tapi coba berpikir kita pergi ke gereja untuk mengucap syukur, meminta ampun dan meminta yang terbaik, berpikirlah jika Tuhan setiap detik bisa menemani kita, apa susahnya untuk kita ke gereja hanya sekitar 2 jam untuk memuji nama-Nya. Jangan pernah mengandalkan kekuatan sendiri, jangan iri dengan kehidupan orang lain karena semua sudah pada porsinya, belajar untuk selalu mengucap syukur tidak hanya dikala senang tetapi dikala kesusahan, belajar untuk lebih ikhlas dan merelakan, belajar untuk memaafkan musuh. Saya menulis ini bukan untuk drama berlebihan menjual kisah sedih hidup saya, saya hanya ingin share apa yang didapatkan, apa yang Tuhan buat dalam hidup saya, sayapun masih belajar dan terus belajar mengasah iman saya karena hidup adalah belajar :).
Sayapun tidak religi sekali hanya berusaha untuk hidup berpegang kepada Tuhan dan takut akan Tuhan, karena hidup cuma sekali. Saya tidak ingin membuang hidup begitu saja, saya punya keinginan jika Tuhan merestui, saya ingin apa yang saya buat apa yang saya lakukan agar bisa menjadi berkat untuk banyak orang agar ketika tugas saya di dunia sudah selesai saya meninggalkan prestasi supaya keturunan saya bisa menuainya seperti yang papa saya lakukan. Percaya saja semua indah pada waktu -Nya. Jangan pernah menyangkal Tuhan, berbuat baik yang tulus tanpa mengharapkan imbalan, belajar menerima kekurangan, dan tetap rendah hati. Saya pun sangat jauh dari kata sempurna,iman sayapun masih tumpul, sayapun masih belajar, belajar dan terus belajar. Semoga tulisan saya ini bisa menjadi berkat untuk banyak orang dan menjadi catatan pengingat saya jika iman saya sedang digoncang. Amin! 🙂 Jesus Bless You!

HE HAS MADE EVERYTHING BEAUTIFUL IN ITS TIME -ECCLESIATES 3:11-

So, did you manage to read the whole story? Touching, eh? 🙂

I guess there’s nothing much I could say now. She has elaborated the important points very well, but perhaps a few points to take note of:

 
1. Never give up no matter what life throws at you. Life is not always smooth sailing. There will always be storms and tides in life, but stand up strong, face it, and you’ll do fine.
 
2. Have faith in God. He will always be there for you no matter what. Leave your life in God’s hands, and He will give you what you need (may not be what you want) and you will always have enough, no less.

I told her via BBM today that I love this particular post she wrote. I told her that it’s well written and her reply to me was simply touching. She told me that it was quite hard for her to wrote it as she had to remember all the details and she literally wrote it in tears. The best thing is, she typed the first draft in her BB!! Geez, can you imagine how tired her thumbs were from typing that lengthy post? Hahahaha.. sorry, I spoiled the mood, is it? :p

Okay, this is it. I’m gonna end this post with some BBM messages from our conversation today (edited a little bit):

“Doa, usaha, dan sabar sih Mel. Kuncinya itu.. Gue cuma mensyukuri apa yang Tuhan kasih dan berusaha jalanin dengan baik, dan gue tau gue gak sempurna. Gue jauh dari sempurna. Siapa pun bisa koq. Beneran deh, asal jangan ngeluh en fokus.”

“Hidup itu belajar mencintai ketidaksempurnaan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s